IrMarLenZ's Blog











{22 September 2010}   Strategi Investasi Pertamina

Program investasi Pertamina dalam rangka menunjang pencapaian Pertamina kelas dunia (2008 – 2023) semakin menuntut dana cukup besar. Bagaimana strategi investasi Pertamina seharusnya dalam pandangan Bapak baik untuk pencapaian 2013, 2018, maupun 2023?

Pertama, strategi untuk ke depan menurut saya kita kembangkan ke hulu sebagai prioritas pertama. Kedua, meningatkan posisi strategis Pertamina di sektor hilir.

Untuk kegiatan hulu investasi yang mau kita lakukan adalah pengembangan yang terkait kegiatan hulu di luar negeri dan di dalam negeri.Khusus kegiatan hulu, pertama peningkatan produksi. Yang tidak kalah pentingnya, adalah peningkatan cadangan.

Investasi kita di hulu bisa organic growth maupun unorganic growth lewat akuisisi. Akuisisi dimulai sejak tahun lalu (2008), yaitu Medco Tuban, kemudian tahun ini akuisisi ONWJ.

Ke depan kita akan lihat kesempatankesempatan akuisisi ini yang sifat asetnya berupa lapangan-lapangan yang sedang berproduksi. Atau lapangan-lapangan yang memiliki cadangan yang istilahnya P1, yang proven reserve-nya cukup signifikan menambah cadangan Pertamina.

Untuk meningkatkan posisi strategis di hilir, tentunya dengan liberalisasi di hilir, perlu ditingkatkan nilai tambah dari posisi yang ada sekarang. Dengan punya jaringan depot, kilang, sistem perkapalan, logistik, dan lain sebagainya, kita memastikan bahwa kita bersaing dengan siapapun pemain-pemain baru yang mau masuk.

Terutama kita harus mengoptimasi kilang, baik dari sisi peningkatan produksi maupun memastikan bahwa kilang menghasilkan produk-produk yang harganya bersaing di pasar.

Jadi, dari sisi pendanaan, bagaimana menuntut cukup dana besar. Problem pendanaan di Pertamina, yang pertama adalah dividen Pertamina yang seringkali cukup besar dibandingkan dengan laba yang kita hasilkan atau dibandingkan dengan dividen BUMN lain. Kalau kita menganut dividen 50 persen diberikan kepada APBN itu nilainya cukup besar.

Dari sisi pendanaan kita melihat piutang-piutang yang seringkali bermasalah dengan BUMN maupun instansi Pemerintah, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali kita duduk bersama-sama dengan Pemerintah meyakinkan bahwa itu ada kepastian pembayarannya. Sebagai BUMN yang mendukung BUMN lain untuk membuktikan sektor publik tidak terganggu, kita mendukung BUMN-BUMN tersebut.

Nah, ini akan mempengaruhi dari sisi pendanaan. Tapi untungnya kalau sekarang ini yang bisa kita lakukan adalah Pertamina ini masih rendah dari sisi leverage-nya. Jadi leverage kita ini masih kurang dari 50 persen. Artinya perbandingan antara utang dengan total equity Pertamina. Ini bisa kita kembangkan, bisa kita tambah. Tapi sebenarnya kita melakukan pendanaan eksternal itu untuk upaya investasi yang sifatnya produktif. Bukan kita pakai untuk menalangi piutang-piutang yang macet itu.

Jadi harus kita pastikan bahwa setiap penggunaan dana pinjaman yang tentunya kita bayar bunga, itu harus investasi yang menghasilkan return yang lebih besar dari cost of fund kita. Nah, strategi pendanaannya seperti itu, sumber pendanaannya bisa macam-macam, dari luar maupun dari dalam.

Sejauhmana kesiapan pendanaan kita? Apakah kita masih tergantung pada pendanaan luar? Kalau ditanya apakah kita tergantung pada pendanaan luar, tergantung kondisi pendanaan kita atau pada saat nanti. Pendanaan kita banyak dipengaruhi oleh likuiditas. Para stakeholder Pemerintah banyak mengambil BBM sehingga mengurangi kemampuan pendanaan kita. Kemudian piutang-piutang macet. Itu juga akan mengurangi kemampuan pendanaan kita untuk investasi. Sehingga pilihan lain adalah pinjaman. Kalau meminjam, menurut saya selaku Direktur Keuangan, kita punya batas. Jangan sampai krisis Pertamina berulang. Kita sudah tetapkan mengambil kebijakan, bahwa debt equity tidak boleh lebih dari satu. Berarti itu batas pendanaan kita. Jangan sampai kita menjadi high leverage.

Itu bisa dari berbagai sumber? Itu bisa dari berbagai sumber. Bisa dari obligasi, pinjaman. Pembangunan infrastruktur untuk sektor pengolahan dan pemasaran niaga seperti apa kebijakannya? Pertama, infrastruktur yang kita buatkan dari sisi distribusi maupun dari sisi tangki timbun, depot, dan lain sebagainya. Dari sisi distribusi harus ada keandalan distribusi, yaitu fungsi perkapalan, transportasi, infrastruktur pelabuhan. Ini kita harus perbaiki.

Harus ada penjelasan kepada publik, pendirian Pertamina mengenai efisiensi itu seperti apa? Efisiensi Pertamina harus dilihat, pertama sebagai PT baru tahun 2003. Banyak warisan-warisan yang sekarang kita bereskan karena membuat kita tidak efisien. Kebijakankebijakan dulu dalam rezim cost and fee, kebijakankebijakan berdasarkan UU Nomor 8 tahun 1971. Itu yang menjadi beban begitu kita diberi tugas.

Pertamina itu kan kompleks dari hulu ke hilir, belum di tengah-tengahnya business process-nya yang sangat kompkeks. Pertamina ini sangat besar. Jadi begitu kita bilang ada efisiensi satu persen, nggak kerasa. Di kita sendiri perlu lah memperbaiki. Makanya kalau Anda lihat di Anggaran 2010 kita tajam tuh untuk melihat efisien. Kita mulai potongin anggaran-anggaran yang memang tidak memberikan nilai tambah.

Saya selalu bilang, kita mulai dari hal-hal kecil lah. Misalnya biaya perjalanan dan seluruh biaya-biaya yang tidak menyangkut dengan nilai tambah kita kurangi. Masih banyak yang bisa kita perbaiki dan harus diperbaiki. Masih banyak, masih banyak yang bisa kita perbaiki.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: