IrMarLenZ's Blog











Perubahan pengelolaan data transaksi bisnis sistem ERP (Enterprise Resource Planning) dari SAP R/3 ke generasi mySAP 2005, merupakan suatu keharusan. Menurut Direktur Keuangan Ferederick ST Siahaan selaku Project Sponsor program penerapan ERP mySAP 2005, mungkin pada awalnya akan ada kekurangan di sana-sini. Menurutnya hal itu bisa dianggap sebagai penyakit bayi yang harus dapat kita sembuhkan dan kita perbaiki. “Jangan dijadikan satu keluhan yang tidak dapat diselesaikan. Semua pasti ada jalan keluarnya dan semua harus dapat diselesaikan,” tegasnya. Berikut paparan Direktur Keuangan pada saat Go Live mySAP (2/1) lalu, yang disusun dalam bentuk tanya jawab.

Bagaimana langkah kedepan dari keberadaan program mySAP 2005 ini?
Tidak ada lagi titik balik kebelakang, karena kita harus maju terus ke depan. Ini akan mencerminkan perubahan budaya dan mindset Pertamina untuk betul-betul menjadi satu entitas bisnis, kususnya menjadi perusahaan minyak dan gas kelas dunia.

Bagaimana dengan implementasi mySAP yang baru saja Go Live?
Implementasi mySAP bukanlah sektoral. BTP Implementasai SAP adalah salah satu program transformasi bisnis Pertamina, lebih dari sekedar program teknologi informasi. Jelas, proyek implementasi ini harus diwujudkan melalui kerjasama dari seluruh Direktorat di Pertamina. Artinya, seluruh lini di Pertamina sebaiknya memahami urgensi terlaksananya implementasi mySAP.

Menurut Anda, apakah Pertamina sudah siap dalam melakukan implementasi mySAP tersebut?
Mau tidak mau Pertamina harus siap melakukan migrasi tersebut. Yakni melakukan perubahan dari menggunakan sistem lama ke sistem baru. Dan ini merupakan satu tonggak baru atau milestone bagi perusahaan.

Begini, saya coba jelaskan bahwa dalam perubahan akan memerlukan banyak hal.

Pertama, perubahan terhadap budaya kerja yang baru khususnya disiplin. Hal ini yang perlu diperhatikan bukan saja bagi pekerja tetapi juga para pimpinan baik di pusat maupun unit-unit operasi, bahwa cara kerja baru ini diimplikasikan oleh sistem yang telah kita desain. Jadi pertama ownership-nya ada di kita dan tanggungjawabnya juga ada di kita juga.

Kedua, ini adalah BTP yang melibatkan banyak fungsi (cross directorate) bahkan para stakeholders, termasuk bank, konsumen, dan lain sebagainya. Karena itu, ini adalah BTP yang menurut saya membuktikan bahwa kalau kita mau, kita mampu. Ini juga merupakan salah satu BTP besar di Pertamina dan ini menjadi milestone yang baru kalau kita melakukan BTP-BTP yang lebih besar lagi di Pertamina.

Kita membuktikan bahwa kita mampu di tengah-tengah banyak kelemahan-kelemahan kecil yang harus diperbaiki. Dan saya kira ini normal. Namun ini membuktikan bahwa kita bisa menjadi world class company yang bukan saja impian dan kita buktikan di BTP mySAP ini yang menjadi satu BTP besar yang sekarang kita lakukan.

Kemudian dengan desain sistem yang baru, kita migrasi ke mySAP. Sekali lagi ini harus mengubah cara pandang dan paradigma kita. Seluruh transaksi yang kita lakukan harus accountable dan harus transparan serta semua orang harus mengerti apa yang harus dilakukannya.

Bagaimana dengan kendala-kendala yang akan muncul?
Kemungkinan setelah Go Live mySAP 2009 ini, bakal adanya masalahmasalah kecil. Saya juga akan meminta kepada para pimpinan unit, side champion, team champion serta lead champion yang memonitor, agar segera masalah-masalah minor ini kita komunikasikan. Jangan sampai masalahmasalah yang muncul setelah Go Live dibiarkan menumpuk sehingga kita nanti jangan sampai perlu lagi tim khusus untuk menyelesaikan hal itu. Karena begitu ada masalah kita harus selesaikan dengan segera dan mohon kita terbuka untuk berkomunikasi lebih intensif, dengan tim pamungkas.

Harapan kedepannya bagaimana?
Mudahmudahan dengan sistem yang baru ini, Pertamina bukan lagi menjadi perusahaan yang misterius. Pertamina dapat menjadi perusahaan yang lebih displin dan bisa mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan. Karena ada user ID yang diberikan ke fungsi dan otorisasi yang berhak untuk itu.

Untuk diketahui juga, bahwa sistem yang kita lakukan BTP mySAP ini bukan hanya upgrading sistem operasi Pertamina seperti kita upgrading dari windowsXp ke widows vista. Ini adalah sebuah sistem yang mengubah dan harus mengubah cara bekerja kita dan pola pikir yang baru kearah sistem yang kita desain ini adalah sistem yang kita desain bersama-sama.

Sistem yang kita  desain yang bukan didesain oleh konsultan, tapi kita adalah owner daripada sistem yang kita operasikan ini. Karena itu sistem ini merupakan milik kita bersama, kita jaga bersama dan bakal banyak implikasiimplikasi yang diperlukan dan saya minta dukungan dari semua unit dan juga tim posko serta super user yang membantu pelaksanaan Go Live hari ini dan seterusnya.

Sejauhmana komitmen dan dukungan terhadap sistem mySAP ini?
Tentang mySAP, kebijakan ini adalah keputusan seluruh direksi, anggota steering committee adalah adalah direksi. Jadi ini keputusan bulat seluruh direksi. Dengan hadirnya direksi pada hari Selala (2/1), (ketika GoLive mySAP, Red) itu merupakan salah satu dukungan penuh dari jajaran Direksi. Dan ini merupakan dukungan untuk menjadi perusahaan kelas dunia.



{22 September 2010}   Strategi Investasi Pertamina

Program investasi Pertamina dalam rangka menunjang pencapaian Pertamina kelas dunia (2008 – 2023) semakin menuntut dana cukup besar. Bagaimana strategi investasi Pertamina seharusnya dalam pandangan Bapak baik untuk pencapaian 2013, 2018, maupun 2023?

Pertama, strategi untuk ke depan menurut saya kita kembangkan ke hulu sebagai prioritas pertama. Kedua, meningatkan posisi strategis Pertamina di sektor hilir.

Untuk kegiatan hulu investasi yang mau kita lakukan adalah pengembangan yang terkait kegiatan hulu di luar negeri dan di dalam negeri.Khusus kegiatan hulu, pertama peningkatan produksi. Yang tidak kalah pentingnya, adalah peningkatan cadangan.

Investasi kita di hulu bisa organic growth maupun unorganic growth lewat akuisisi. Akuisisi dimulai sejak tahun lalu (2008), yaitu Medco Tuban, kemudian tahun ini akuisisi ONWJ.

Ke depan kita akan lihat kesempatankesempatan akuisisi ini yang sifat asetnya berupa lapangan-lapangan yang sedang berproduksi. Atau lapangan-lapangan yang memiliki cadangan yang istilahnya P1, yang proven reserve-nya cukup signifikan menambah cadangan Pertamina.

Untuk meningkatkan posisi strategis di hilir, tentunya dengan liberalisasi di hilir, perlu ditingkatkan nilai tambah dari posisi yang ada sekarang. Dengan punya jaringan depot, kilang, sistem perkapalan, logistik, dan lain sebagainya, kita memastikan bahwa kita bersaing dengan siapapun pemain-pemain baru yang mau masuk.

Terutama kita harus mengoptimasi kilang, baik dari sisi peningkatan produksi maupun memastikan bahwa kilang menghasilkan produk-produk yang harganya bersaing di pasar.

Jadi, dari sisi pendanaan, bagaimana menuntut cukup dana besar. Problem pendanaan di Pertamina, yang pertama adalah dividen Pertamina yang seringkali cukup besar dibandingkan dengan laba yang kita hasilkan atau dibandingkan dengan dividen BUMN lain. Kalau kita menganut dividen 50 persen diberikan kepada APBN itu nilainya cukup besar.

Dari sisi pendanaan kita melihat piutang-piutang yang seringkali bermasalah dengan BUMN maupun instansi Pemerintah, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali kita duduk bersama-sama dengan Pemerintah meyakinkan bahwa itu ada kepastian pembayarannya. Sebagai BUMN yang mendukung BUMN lain untuk membuktikan sektor publik tidak terganggu, kita mendukung BUMN-BUMN tersebut.

Nah, ini akan mempengaruhi dari sisi pendanaan. Tapi untungnya kalau sekarang ini yang bisa kita lakukan adalah Pertamina ini masih rendah dari sisi leverage-nya. Jadi leverage kita ini masih kurang dari 50 persen. Artinya perbandingan antara utang dengan total equity Pertamina. Ini bisa kita kembangkan, bisa kita tambah. Tapi sebenarnya kita melakukan pendanaan eksternal itu untuk upaya investasi yang sifatnya produktif. Bukan kita pakai untuk menalangi piutang-piutang yang macet itu.

Jadi harus kita pastikan bahwa setiap penggunaan dana pinjaman yang tentunya kita bayar bunga, itu harus investasi yang menghasilkan return yang lebih besar dari cost of fund kita. Nah, strategi pendanaannya seperti itu, sumber pendanaannya bisa macam-macam, dari luar maupun dari dalam.

Sejauhmana kesiapan pendanaan kita? Apakah kita masih tergantung pada pendanaan luar? Kalau ditanya apakah kita tergantung pada pendanaan luar, tergantung kondisi pendanaan kita atau pada saat nanti. Pendanaan kita banyak dipengaruhi oleh likuiditas. Para stakeholder Pemerintah banyak mengambil BBM sehingga mengurangi kemampuan pendanaan kita. Kemudian piutang-piutang macet. Itu juga akan mengurangi kemampuan pendanaan kita untuk investasi. Sehingga pilihan lain adalah pinjaman. Kalau meminjam, menurut saya selaku Direktur Keuangan, kita punya batas. Jangan sampai krisis Pertamina berulang. Kita sudah tetapkan mengambil kebijakan, bahwa debt equity tidak boleh lebih dari satu. Berarti itu batas pendanaan kita. Jangan sampai kita menjadi high leverage.

Itu bisa dari berbagai sumber? Itu bisa dari berbagai sumber. Bisa dari obligasi, pinjaman. Pembangunan infrastruktur untuk sektor pengolahan dan pemasaran niaga seperti apa kebijakannya? Pertama, infrastruktur yang kita buatkan dari sisi distribusi maupun dari sisi tangki timbun, depot, dan lain sebagainya. Dari sisi distribusi harus ada keandalan distribusi, yaitu fungsi perkapalan, transportasi, infrastruktur pelabuhan. Ini kita harus perbaiki.

Harus ada penjelasan kepada publik, pendirian Pertamina mengenai efisiensi itu seperti apa? Efisiensi Pertamina harus dilihat, pertama sebagai PT baru tahun 2003. Banyak warisan-warisan yang sekarang kita bereskan karena membuat kita tidak efisien. Kebijakankebijakan dulu dalam rezim cost and fee, kebijakankebijakan berdasarkan UU Nomor 8 tahun 1971. Itu yang menjadi beban begitu kita diberi tugas.

Pertamina itu kan kompleks dari hulu ke hilir, belum di tengah-tengahnya business process-nya yang sangat kompkeks. Pertamina ini sangat besar. Jadi begitu kita bilang ada efisiensi satu persen, nggak kerasa. Di kita sendiri perlu lah memperbaiki. Makanya kalau Anda lihat di Anggaran 2010 kita tajam tuh untuk melihat efisien. Kita mulai potongin anggaran-anggaran yang memang tidak memberikan nilai tambah.

Saya selalu bilang, kita mulai dari hal-hal kecil lah. Misalnya biaya perjalanan dan seluruh biaya-biaya yang tidak menyangkut dengan nilai tambah kita kurangi. Masih banyak yang bisa kita perbaiki dan harus diperbaiki. Masih banyak, masih banyak yang bisa kita perbaiki.



{22 September 2010}   Model Transportasi Baru Pertamina

PT Pertamina (Persero) mengadakan fasilitas pengisian elpiji bersifat dinamis atau stasiun pengisian elpiji 3 kilogram keliling. Hal ini untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan elpiji seiring pelaksanaan program konversi minyak tanah ke elpiji. Mobil pengisian elpiji itu diadakan untuk mendekatkan sumber pengisian elpiji dengan ukuran lebih bervariasi, mulai dari 1 kilogram atau dengan harga mulai Rp 4.000 sesuai dengan daya beli masyarakat. Mobil pengisian tersebut dihadirkan pada saat pameran kinerja Direktorat Pemasaran dan Niaga, Selasa (12/1).

Mobile filling Elpiji diadakan untuk mendekatkan sumber-sumber pengisian elpiji dengan ukuran lebih bervariasi sesuai dengan kemampuan dan daya beli masyarakat terhadap elpiji 3 kilogram. Selain itu, dapat juga mengurangi loss opportunity karena ketidaksesuaian kebutuhan konsumen dengan produk yang didistribusikan serta memberikan variasi layanan kepada konsumen sesuai dengan kebutuhan konsumen dan ketersediaan layanan.

Untuk mobile filling Elpiji tersebut, Pertamina baru mempunyai dua buah, satu merupakan hasil karya anak negeri dan satunya merupakan impor dari India. Pertamina juga menghadirkan truk tangki aluminium yang dilengkapi dengan empat kompartemen, dengan masingmasing kapasitas 8000 liter. Truk tangki yang dapat menampung 32KL bahan bakar minyak tersebut merupakan truk tangki bottom loading sesuai standar internasional.

Menurut Deputi Direktur Pemasaran Pertamina Hanung Budya, truk tangki dengan kapasitas besar dan mampu untuk mengangkut lebih dari satu jenis bahan bakar minyak ini dihadirkan sebagai salah satu langkah efisiensi operasi mobil tangki. “Selain itu, untuk mengoptimalisasikan jumlah dan daya angkut mobil tangki,” cetusnya.

Lebih lanjut, Hanung menjelaskan bahwa mobil tangki tersebut mempunyai retensi pembongkaran kurang lebih 0,02 persen, sedangkan untuk sealing ring sebagai pengaman kontaminasi dan kebocoran inter-kompartemen serta electronic seal untuk mobil tangki standar aluminium alloy.

“Untuk diketahui, mobil tangki alumunium tersebut sudah memenuhi standar emisi EURO 2 dan juga telah menggunakan air suspension dengan system pengereman ABS (antilock breaking system),” ungkap Hanung.

Mobile Filling Unit LGV juga dipamerkan. Mobil ini merupakan sarana pengisian bahan bakar LGV (Vi-gas Pertamina) untuk kendaraan berbahan bakar Vi-Gas, yang dilengkapi dengan tangki LGV, dispenser dan generator setup. Mobile Filling Unit LGV ini dimaksudkan untuk melayani penjualan pada lokasi dimana belum ada SPBU Vi-Gas, namun konsumen terpusat di titik atau lokasi tersebut dan dapat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain sehingga memudahkan konsumen mendapatkan LGV (Vi- Gas Pertamina).



Pertamina EP sebagai produsen minyak dan gas terbesar kedua di Indonesia pada tahun 2009, pencapaian produksi minyak Pertamina EP berhasil menembus angka 127,5 ribu barel per hari. Angka tersebut berada di atas target yang ditetapkan sebesar 125,5 ribu barel per hari. Sementara itu, produksi gas Pertamina EP pada tahun 2009 mencapai 1,04 miliar kaki kubik per hari. Selanjutnya pada tahun 2010, produksi minyak Pertamina EP masih berada di atas 130 ribu barel per hari dan gas di atas 1 miliar kaki kubik per hari.

Untuk memberikan dorongan kuat terhadap BP Migas dalam memenuhi kebutuhan gas di dalam negeri, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina EP Syamsu Alam menandatangani empat kesepakatan terkait jual beli gas dengan total nilai kontrak mencapai 265 juta dolar AS. Penandatanganan dilakukan di Kantor BP Migas Jakarta, Jumat (19/2).

Adapun kesepakatan perjanjian ju-al beli gas yang ditandatangani oleh Pertamina EP terdiri dari; Pertama, Head of Agreement (HoA) dengan PT Pertamina Gas untuk memenuhi proyek ngl Plant sumatera selatan; Kedua, PJBG dengan PT Medco E & P Indonesia untuk peningkatan produksi minyak; Ketiga, Perjanjian jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Pelangi Cakrawala Losarang untuk industri di Losarang, Jawa Barat, dan Keempat, PJBG dengan PT Tossa Sakti untuk industri di Jawa Tengah.

Dengan ditandatanganinya keem-pat perjanjian tersebut, Syamsu Alam mengatakan bahwa Pertamina EP berkomitmen untuk memasok gas lebih dari 71,2 miliar kaki kubik kepada konsumen yang sekaligus mengukuhkan posisi Pertamina EP sebagai pemasok gas terbesar untuk kebutuhan domestik.

HoA ditandatangani oleh Pertamina EP dengan PT Pertamina Gas untuk NGL Plant di Sumatera Selatan. Total volume pasokan ke Pertamina Gas sebesar 65359,00 TBTU. Perjanjian ini berlaku selama 15 tahun sejak 1 Januari 2013.

PJBG dengan PT Medco E&P Indonesia adalah untuk keperluan bahan bakar stasiun pemompaan ulang di Pengabuan, Serdang dan Ibul, Sumatera Selatan. Untuk perjanjian ini, total volume 1395,96 TBTU. Perjanjian ini berlaku sejak 27 April 2009 sampai dengan 27 november 2013 atau terpenuhi total pasokan, mana yang tercapai terlebih dahulu.

Selanjutnya, PJBG yang yang ditandatangani oleh Pertamina EP dengan PT Pelangi Cakrawala Losarang tentang jual beli gas untuk keperluan industri di Losarang, Indramayu, Jawa Barat. Total volume 6230,00 TBTU dan perjanjian ini berlaku sejak 18 Desember 2008 sampai dengan 31 Desember 2018 atau terpenuhinya total pasokan, mana yang tercapai terlebih dahulu.

Selain itu, PJBG yang ditandatangani dengan PT Tossa Shakti tentang jual beli gas untuk keperluan pabrik kaca di Jawa Tengah. Total volume 1460,00 TBTU dan perjanjian ini berlaku sejak 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2011.

Produksi gas Pertamina EP merupakan penopang terbesar dari total produksi gas Pertamina secara keseluruhan. Sedangkan saat ini Pertamina adalah produsen gas terbesar untuk kebutuhan domestik. Dari jumlah tersebut 28 persen dipasok kepada Perusahaan Gas Negara (PGN), 22 persen untuk memenuhi kebutuhan industri, 18 persen untuk industri pupuk, 18 persen untuk pasokan ke pambangkit listrik, dan 14 persen lainnya untuk kebutuhan Kilang Pertamina dan pemakaian sendiri.

Kinerja Pertamina EP terus mengalami peningkatan yang signifikan. Produksi Minyak Pertamina EP terus mengalami peningkatan sejak 2003 dengan tingat pertumbuhan rata-rata (Capital Average Gross Ratio/ CAGR) mencapai 3,1 persen dari level produksi 95,6 ribu barrel perhari (MBOPD) di 2003 menjadi 102,2 MBOPD di 2006. Produksi ini mengalami pertumbuhan 6,7 persen di 2007 menjadi 110,3 MBOPD dan kembali naik sebesar 7,8 persen di 2008 dengan produksi rata-rata Pertamina EP 2008 mencapai 116,6 MBOPD. Pada tahun 2009, Pertamina EP berhasil meningkatkan realisasi produksi sebesar 9 persen dengan pencapaian 127,1 MBOPD.MPI



Kementerian Perladangan Kerajaan Malaysia melakukan kunjungan kerja ke Depot Plumpang Pertamina. Kegiatan tersebut dalam rangka meninjau tangki blending minyak nabati (fame) milik Pertamina, Jumat (5/3). Rombongan diterima Iangsung oleh Deputi Direktur Distribusi Pertamina Djoko Prasetyo beserta tim manajemen Pertamina. Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Tan Sri Bened Donipok dan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Said Mansyi.

Dalam kesempatan tersebut Deputi Direktur Distribusi Pertamina Djoko Prasetyo menjelaskan bahwa maksud dan tujuan dilakukannya kunjungan kerja Menteri Perladangan Malaysia adalah untuk mengetahui lebih jauh lagi sistem pengelolaan dan pencampuran antara minyak nabati (fame) dengan minyak diesel yang menghasilkan biodiesel. “Berkaitan dengan sudah mau dipasarkannya biofuel di Negara Malaysia, untuk itu Menteri Perladangan Malaysia mendatangi Depot Pertamina untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana mekanisme maupun sistem pencampuran (blending, red) tersebut,” ujarnya.

“Mereka (pihak Malaysia, red) sudah mencari referensi tentang sistem blending tersebut, tetapi yang didapatkan selalu dengan investasi tinggi sekali. Mereka heran dan takjub setelah dilihat bagaimana Pertamina dapat melakukan pencampuran fame dengan sangat sederhana dan investasi yang murah,” paparnya.

Menurut Djoko, tidak ada hal yang istimewa dalam sistem yang digunakan oleh Pertamina. Ltu hanya merupakan teknologi blending saja, dengan tingkat akurasi dan homoginitasnya sudah terjamin. “Karena kita sudah melakukan tes minyak yang dicampur dengan cara sederhana mi sudah memenuhi syarat,” katanya.

Meskipun sederhana, lanjut Djoko, pada awal Juni mendatang Pertamina akan membangun tangki blending baru dengan menggunakan sistem pengoperasian yang otomatis. Dengan tujuan,  nantinya tidak akan memerlukan tenaga kerja yang terlalu banyak dan tingkat akurasinya akan lebih terjamin sehingga mengurangi resiko.

Sementara itu, Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Tan Sri Bened Dompok, menjelaskan maksud dan tujuannya melakukan kunjungan kerja ke Pertamina, yaitu untuk melihat secara langsung bagaimana Pertamina melaksanakan blending fame untuk dijadikan biofuel. Menurutnya, dan kunjungan mi nantinya dapat dijadikan contoh bagi Malaysia dalam hal menggunakan sistem yang sederhana tetapi dengan hasil yang maksimal.

“Sebelumnya, kami (Malaysia, red) sudah mencari referensi tetapi semua yang kami dapat informasinya investasi untuk biofuel sangatlah mahal. Ketika kami mengetahui bahwa Pertamina telah menggunakan biofuel, dengan investasi yang murah maka kami langsung kontak ke Pertamina,” ujar Tan Sri Bened Dompok.

Lebih lanjut Tan menjelaskan, bahwa Kerajaan Malaysia sendiri telah me- mutuskan untuk menggunakan bio fuel, khususnya biodiesel pada bulan Juni tahun 2011 mendatang. “Dan itu semua tergantung dan kesiapan dan pihak penyedia infrastruktur pencampuran (blending, red), sudah tersedia maka akan lebih cepat lagi dilakukan. Adapun  minyak nabati kelapa sawit yang  digunakan di Malaysia dalam satu tahun sebanyak 500 ribu ton yang nantinya akan dicampurkan dengan minyak diesel,” cetusnya.

Deputi Direktur Distribusi Pertamina menambahkan dengan adanya kunjungan kerja dan pihak Kerajaan Malaysia, menjadi nilai tambah positif bagi Pertamina. Adapun benefitnya adalah Pertamina telah melakukan dan melaksanakan misi dalam hal memasarkan atau mendistribusikan bahan bakar ramah lingkungan dan juga dapat menjadi cerminan bahwa pemerintah Indonesia juga sudah memperhatikan masalah-masalah lingkungan.

“Disini Pertamina mendukung penuh apa yang menjadi kebijakan pemerintah yaitu dengan jalan melakukan Keputusan Menteri No. 32 tahun 2008 yaitu memasarkan biofuel dengan kandungan yang disarankan oleh keputusan menteri,” ungkapnya.

Untuk langkah ke depan,  menurut Djoko, kerjasama yang akan dilakukan kemungkinan hanya dalam hal teknologi saja. Kareria untuk suplai biofuel, perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan.



Bekasi- Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina memberikan bantuan pendidikan dan kesehatan sebesar Rp 3,7 miliar. Kepada 172 sekolah lanjutan atas Bekasi dan pembangunan ruang rawat inap di puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) Bekasi. Kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial Pertamina sebagai perusahaan perusahaan Badan Usaha Milik Negera (BUMN), yang bergerak di dalam minyak dan gas bumi. Kegiatan berlangsung di Bantar Gebang Bekasi, Jumat (19/3).

Adapun bantuan pendidikan yang diberikan kepada 172 sekolah (SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah) berupa dua buah komputer dan satu buah printer, dengan masing-masing senilai Rp 10.000.000. Sedangkan untuk kesehatan bantuan yang diberikan berupa pembangunan ruang rawat inap Puskesmas Bekasi dengan ukuran 8 x 12 meter.

“Jadi untuk pendidikan Pertamina total bantuan yang diberikan sebesar Rp 3,4 miliar. Sedangkan untuk kesehatan Pertamina memberikan bantuan sebesar Rp 288 juta,” ujar Manajer CSR Pertamina Guntara.

Guntara juga menjelaskan program ini tidak berhenti di sini saja, tetapi berkelanjutan. Untuk pendidikan fasilitas yang diberikan salah satunya untuk mendukung terlaksananya kegiatan belajar dan mengajar dengan baik. Sedangkan untuk kesehatan, lanjutnya, memang diberikan dalam bentuk sarana dan fasilitas juga. “Apalagi sekarang tuntutan kesehatan masyarakat menengah ke bawah cukup tinggi. Dengan adanya ruang rawat inap di puskesmas paling tidak dapat meringankan masyarakat kalangan menengah ke bawah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan layak,” paparnya.

Guntara juga menjelaskan misi dari CSR Pertamina, yaitu melaksanakan komitmen korporat atas tanggung jawab sosial dan lingkungan yang akan memberikan nilai tambahkepada semua pemangku kepentingan untuk mendukung pertumbuhan perusahaan serta melaksanakan tanggung jawab korporat dan kepedulian sosial untuk sebuah pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

“Sedangkan tujuan dari CSR itu sendiri adalah untuk membangun hubungan yang harmonis dan atmosfer yang kondusif untuk mendukung aktivitas korporat, menyumbang penyelesaian masalah sosial, meningkatkan nilai dan budaya korporat dalam strategi korporat, dan membangun citra serta reputasi korporat,” ujar Gu



{22 September 2010}   Pertamina Raih Cabotage Awards 2010

Pertamina mendapatkan penghargaan dari Indonesia Cabotage Advocation Forum 2010, berupa Cabotage Awards 2010. Penghargaan diberikan oleh Rektor UI Gumilar Rusliwa Sumantri kepada Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Ferederick ST Siahaan, Rabu (31/3).

Dalam kesempatan tersebut, Ferederick menjelaskan mengapa Pertamina mendapatkan penghargaan tersebut, karena Pertamina selalu mengikuti aturan yang ada dan Pertamina juga terus mendorong perusahaan nasional untuk mengambil bagian lebih banyak dari bisnis perkapalan di Pertamina. “Apalagi Pertamina termasuk konsumen perkapalan yang cukup besar untuk membawa komoditi minyak mentah dan produk kilang,” ujarnya.

“Nah, mungkin sekarang Pertamina mendapatkan penghargaan karena konsisten menerapkan aturan itu. Saya pribadi sebetulnya mengharapkan lebih lagi, bukan hanya kapal berbendera Indonesia tetapi mengenai tarif sewa kapal dalam rupiah bukan dolar. Yang pasti Pertamina akan tetap mendorong untuk Merah Putih dan Pertamina akan berdiri paling depan dari sisi konsistensi,” paparnya.

Penerapan asas cabotage di Indonesia bertujuan bukan untuk mengusir atau melarang orang asing berada di perairan Indonesia. Persepsi yang muncul di masyarakat dengan penerapan asas cabotage di Indonesia saat ini adalah Indonesia (WNI) melawan pihak asing (WNA). Latar belakang penerapan asas cabotage di Indonesia adalah agar pengusaha nasional dan pengusaha asing yang akan mendaftarkan kapal di Indonesia menanamkan atau mendirikan usahanya di Indonesia yang selanjutnya wajib mengunakan asuransi, perbankan, serta menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia. Diharapkan hal ini selanjutnya akan menimbulkan multiplier effect kepada sektorsektor lainnya di Indonesia dan akan meningkatkan pendapatan negara.

Konsep asas cabotage berbeda dengan konsep flags of convenience yang dianut oleh beberapa negara. Dalam konsep flags of convenience, pengusaha yang berbeda kewarganegaraan atau badan usaha yang didirikan diluar negara penganut konsep flags of convenience tersebut, dapat mendaftarkan kapalnya untuk memperoleh bendera negara yang bersangkutan. Dengan demikian, pajak yang seharusnya masuk ke negara pemilik kapal masuk ke negara yang tempat kapal yang didaftarkan.



“Ini merupakan terobosan baru yang bersejarah yaitu joint venture company Floating Storage and Regasification Terminal (FSRT) gas alam cair (LNG) antara PT Pertamina (Persero) dengan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk yang menghasilkan sebuah perusahaan baru PT Nusantara Regas,” ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar sesaat setelah menyaksikan penandatanganan Akta Pendirian perusahaan tersebut, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (14/4).

Penandatanganan Akta pendirian tersebut dilakukan oleh pemegang saham masing-masing perusahaan, yaitu Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Ferederick ST Siahaan dan Direktur Pengembangan PGN Bambang Banyudoyo.

“Mengapa ini dikatakan sejarah baru karena joint antara Pertamina dan PGN adalah yang pertama kalinya dilakukan dan melahirkan satu perusahaan yang memungkinkan terjadinya diversifikasi suplai gas di Indonesia,” kata Abubakar.

Menurut Abubakar, receiving LNG dirancang tiga tempat, yaitu di Jawa Barat/DKI Jakarta, Medan, dan Jawa Timur. Ada permintaan dari pemerintah agar Pertamina segera menyelesaikan FS (floating storage) di Jawa Timur, sedangkan yang di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Medan kelihatannya lancar dan Jawa Timur segera dirampungkan.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar menjelaskan dengan adanya receiving terminal ini nanti, terdapat sebuah kapal besar yang statis dan dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan untuk pengolahan atau regasifikasi gas cair diubah menjadi gas biasa. Dari kapal receiving terminal bisa memompa gas menuju pipa-pipa distribusi yang jangkauannya hingga 500-600 km. Dengan demikian gas yang di darat itu akan tersuplai dalam bentuk gas biasa kepada para pelanggan.

“Jadi adanya receiving terminal ini, untuk pengangkutan gas LNG yang selama ini kita kenal melalui pipa bawah laut. Dengan adanya penerimaan atau terminal penerima dimungkinkan sekarang lewat non pipa bawah laut, tapi diangkut melalui transportasi laut biasa dengan menggunakan kapal angkut LNG tersebut. Dengan demikian inilah yang dinamai sejarah, yang sebelumnya tidak ada. Melalui PT Nusantara Regas, hal itu menjadi ada,” paparnya.

“Kita sangat berbahagia, apalagi sekarang ini Indonesia mengalami “kesulitan gas”. Terobosan seperti ini sangat tinggi kontribusinya bagi perkembangan, pengadaan, dan jaminan suplai distribusi gas nasional kita,” tandasnya.

Perjanjian Akta Pendiri
Dengan ditandatanganinya akta pendiri ini, maka Pertamina dan PGN telah membentuk perusahaan patungan dengan kepemilikan saham masing-masing yaitu Pertamina sebesar 60 persen dan PGN sebesar 40 persen, dengan struktur permodalan yaitu modal dasar sebesar Rp 2 triliun dan modal setor sebesar Rp 500 miliar.

Pemanfaatan LNG tersebut nantinya akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gas domestik khususnya bagi pembangkit listrik milik PLN. Pasokan gas untuk kebutuhan fasilitas tersebut antara lain diharapkan berasal dari sumber gas di Kalimantan Timur dengan total volume sebesar 11,75 juta ton semala 11 tahun.

Adapun susunan dari pengurus PT Nusantara Regas adalah sebagai berikut, Direktur Utama Djohardi Angga Kusumah, Direktur Teknik dan Operasi Ariadji, Direktur Keuangan dan Administrasi Sutikno, Komisaris Utama Karen Agustiawan, dan Komisaris M. Baskoro PN.

Dengan berdirinya badan perusahaan patungan untuk LNG receiving terminal ini diharapkan proses kontribusi fasilitas terbut dapat dimulai di tahun 2010 ini. Ke depan Pertamina dan PGN berharap dapat terus berperan dalam peningkatan penggunaan gas bumi, sebagai sumber energi yang lebih efisien, bersih, dan ramah lingkungan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.



Senior Vice Pre-sident Pemasaran Pertamina Hanung Budya menerima penghargaan dari MarkPlus Inc., sebagai Greatest Corporate kategori Industri Resources, dan Product Brand. Penghargaan diserahkan oleh Presiden dan Pendiri MarkPlus, Inc., Hermawan Kartajaya di Four Seasons Hotel, Jakarta, (27/5).

Penobatan Pertamina sebagai Greatest Corporate Brand of The Decade In Resources Industry ini dengan pertimbangan Pertamina sebagai perusahaan terbesar kedua berdasarkan asetnya, kini semakin lincah dalam menghadapi persaingan penjualan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM). Pertamina yang memiliki skala bisnis yang begitu besar dari hulu ke hilir di bidang migas, kian jeli dalam memfokuskan pengembangan pada aspek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelanggan.

Secara bersamaan, Pertamina mampu membenahi bisnis pelumas dan SPBU Pertamina yang mencerminkan wajah sehari-hari, dengan peningkatan kualitas produk dan layanannya. Pembenahan yang dilakukan bebarengan dengan liberalisasi sektor migas di Indonesia, tak membuat Pertamina patah semangat. Pertamina berhasil mengatasi tantangan bisnis dengan pemain asing, dan mampu meningkatkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan terhadap SPBU Pertamina misalnya terus meningkat yang membuat pemain global kerepotan menarik konsumen.

Sedangkan, untuk Product Brand, Pertamina mendapatkan penghargaan untuk dua produknya, yaitu Pertamax dan Mesran. Penghargaan bagi Pertamax menjadi angin segar, sekaligus mengkukuhkan tingkat popularitas Pertamax, yang merupakan salah satu simbol sukses transformasi besar-besaran Pertamina sejak tahun 2000-an. Kesuksesan ini, tak lepas dari upaya Pertamina memperbaiki image SPBU sebagai jaringan distribusi Pertamax, dengan kampanye “Pertamina Pasti Pas”. Keunggulan jaringan distribusi ini membuat Pertamax sebagai bahan bakar beroktan tinggi kian mudah didapat, dan menjadi referensi komunitas otomotif yang mulai menggalakkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi.

Sementara penghargaan yang diterima Mesran, yang merupakan produk Pelumas Pertamina, menunjukkan ketangguhannya ditengah persaingan produk pelumas impor lainnya. Mesran sempat menguasai pasar pelumas nasional pada tahun 2001, namun ketika pemerintah mengeluarkan Keppres No.21 Tahun 2001 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas, Mesran terus disusul oleh pesaingnya. Mesran terus mengembangkan citra dan positioning-nya di benak konsumen. Dan keunggulan pada pemakaian Mesran adalah karena harga dan kemudahan produk ini diperoleh.

Penganugerahan brand terbaik sepanjang dekade ini dilakukan berdasarkan pada tiga hal, antara lain Pertama, Brand  tersebut  sudah ada di  tahun 2000, dan  tetap  langgeng  sampai penghujung tahun 2009.   Kedua, Brand tersebut menyimpan cerita bisnis fenomenal di tengah dekade 2000-2009. Ketiga, Brand tersebut memiliki reputasi sebagai thought-leader atau market-leader yang tidak mudah untuk digoyahkan, di industri, sepanjang kurun waktu 2000-2009.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden dan Pendiri MarkPlus, Inc., Hermawan Kartajaya, mengatakan bahwa Indonesia sukses menghindari masa 2009 yang mencekam seperti yang diprediksi banyak orang. Menurutnya, sepanjang tahun 2009, perekonomian dunia memang dilanda krisis besar, tapi Indonesia bersama Tiongkok dan India hanya mengalami “economic downturn“. “Bahkan, ketiga negara inilah yang sekarang disebut sebagai ‘pemimpin’ kebangkitan kembali ekonomi global di tahun 2010,” ungkapnya.



Pertamina berhasil meraih The Best in Building Managing Corporate Image untuk kategori Oil & Gas pada ajang Indonesia’s Most Admired Companies (IMAC) Awards 2010 yang diselenggarakan oleh Frontier Consulting Group bekerjasama dengan Majalah Business Week. IMAC Award 2010 adalah penghargaan tertinggi bagi perusahaan yang diberikan oleh Business Week berdasarkan survei yang diadakan oleh Frontier Consulting Group didua kota besar di Indonesia (Jakarta dan Surabaya) dengan 1800 responden dari kelompok manajemen/ pelaku bisnis, stockholder/investor dan jurnalis.

Dalam IMAC Award 2010 ini, Pertamina mendapatkan score tertinggi 3.927, mengalahkan PT. Shell Indonesia, Exxon Mobil Oil Indonesia Inc. dan Medco Energi International Tbk.Penghargaan diserahkan oleh Chairman Frontier Consultant Group Handi Irawan D dan David S.Simatupang (Business Week) kepada Senior Vice President CSS Pertamina Ahmad Bambang, di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (11/6).

Menurut Ahmad Bambang, penghargaan ini merupakan cerminan citra perusahaan dan modal besar bagi Pertamina sebagai perusahaan yang bisa dibanggakan di tanah air maupun dunia.

“Penghargaan ini tidak lepas dari peran dan dukungan masyarakat, para pelanggan, jurnalis dan stakeholder lain, termasuk kerja keras karyawan Pertamina sehingga kita bisa berhasil seperti sekarang. Kami berharap dukungan ini bisa terus ditingkatkan lagi,” ujarnya usai menerima penghargaan.

Terdapat 50 kategori penghargaan yang diberikan, di antaranya kategori Oil & Gas, Life Insurance, Tour & Travel, Electronics, Heavy Equipment Ditributor, International Courier, Developer, Airlines, Mining (Non Oil & Gas), Agro Industry, Contractor, dan International Bank.

Penilaian IMAC Award ini terdiri dari empat dimensi. Yaitu, performance yang merujuk kepada kinerja perusahaan; quality yang mewakili atribut yang berhubungan kualitas produk, pelayanan dan inovasi; attractiveness yang berhubungan dengan kualitas karyawan dan seberapa besar daya tarik perusahaan tersebut sebagai tempat bekerja; dan responsibility yang menggambarkan kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan.

Perbaikan indeks citra perusahaan yang memperoleh penghargaan ini diharapkan mampu meningkatkan loyalitas konsumen, kepercayaan investor dan dapat meningkatkan daya saing perusahaan tersebut dalam jangka panjang.

Handi Irawan D mengatakan bahwa corporate image adalah bagian yang sangat penting dilakukan setiap perusahaan. “Saya berharap hasil survei ini menjadi masukan yang bermanfaat dan inspiratif kepada para pelaku bisnis di Indonesia. Perusahaan dapat mengetahui posisi mereka dan dapat mempelajari bagaimana-perusahaan lain membangun citra perusahaannya,” kata Handi.



et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.